Etika dan Etiket Profesi Keperawatan

Oleh : Kholid, SST. M.Kes

A. Pengantar
Teknologi maju telah menyebabkan munculnya pertanyaan mengenai hal ikwal kehidupan manusia, kualitas hidup dan etika professional. Pertanyaan moral yang paling mendesak pada era teknologi ini adalah kehidupan yang sejahtera, namun demikian tidak sedikit dijumpai adanya teknologi menjadikan alat untuk melakukan penyimpangan, seperti ; oborsi, penyimpangan penggunaan alat kontrasepsi, penganiayaan, bunuh diri, transplantasi.
Kita tahu manusia itu dinilai oleh manusia lain dalam tindakannya. Ada beberapa macam penilaian tindakan manusia, seperti ; Tindakan dinilai dari keadaan sehat dan sakit, yang menilai ini biasanya dokter, kemudian penilaian ini disebut penilai medis. Tindakan dinilai menurut indah tidaknya tindakannya, orang dinilai indah jalannya, indah nyanyiannya dan seterusnya, kemudian penilaian ini disebut penilaian estetis. Tindakan dinilai baik dan buruknya seseorang, penilaian ini disebut penilaian etis dan moral.
Untuk memahami etika, maka ada 2 aspek dalam menilai baik – buruk, yaitu; 1) aspek tahu, 2) aspek memilih :
Contoh
orang tidur ngorok ------ tidak dapat dinilai baik –buruk
orang mengendarai mobil tiba-tiba menabrak ------- maka ia pun tidak dapat dinilai baik – buruk
pada anak ------ belum mendapatkan penilaian baik - buruk

Berbagai makna terminologi etika. Etika berhubungan dengan bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana melakukan hubungan dengan orang lain. Etika tidak hanya menggambarkan sesuatu, tetapi lebih kepada perhatian dengan penetapan norma dan standar seseorang dan yang seharusnya dilakukan. Etika menitikberatkan pada pertanyaan atas apa yang baik dan yang buruk, karakter, motif atau tindakan yg benar dan salah. Etika dalam keperawatan kesehatan, dimana etika perawat memfokuskan pada apa yang baik dan benar untuk kesehatan dan kehidupan manusia.
Pandangan tentang ilmu etika dengan ilmu lain, Contoh perbedaan ilmu etika dengan ilmu budaya, 1) Obyek materi : kedua bidang ilmu tersebut sama-sama mempelajari manusia, 2) Obyek forma ; ilmu etika mempelajari tindakan manusia yang dilakukan dengan sengaja, sedangkan ilmu budaya mempelajari hasil cipta manusia.
Etika mempelajari tindakan manusia yang di sengaja, Bagaimana yang dimaksud dengan tindakan sengaja ?, apakah ada kehendak bebas dalam tindakan sengaja itu?
Jika didefinisikan secara umum terminologi moral dan etik adalah sama, meskipun terdapat sedikit perbedaan makna. Moral merupakan perilaku aktual, kebiasaan dan kepercayaan kelompok orang atau kelompok tertentu. Moral memiliki karakter social, sedangkan etika adalah pola atau cara hidup, sehingga etika dalam keperawatan merefleksikan sifat, prinsip, dan standar perawat untuk berperilaku profesional.
Etika terlahir dari nilai yang diyakini. Nilai akan tertanam pada diri seseorang apabila orang tersebut berada dalam sebuah masyarakat. Kekuatan dan keajegan masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai akan mempengaruhi moral masyarakat. Nilai tersebut berupa; agama, budaya, pendidikan. Tertanamnya nilai kedalam diri kemudian membentuk sebuah kepribadian akan membantu seorang dalam bertindak. Nilai dan etika saling berhubungan, penanaman nilai sejak dini akan membentuk moralitas pribadi yang tercermin dalam perilaku dalam berhubungan, pengambilan keputusan seseorang serta tindakannya mengacu kapada kaidah-kaidah profesi.
Penerapan etika sering berbenturan dengan budaya dalam masyarakat, seperti kasus persalinan lama. Seorang perawat atau bidan dengaan pengetahuan yang dimiliki, kasus ini harus segera dirujuk ke Rumah sakit. Tatapi lain dengan masyarakat, ia masih harus mempertimbangkan beberap hal, mengenai masalah yang berkenaan adapt-istiadat, kepercayaan seperti mecari orang yang dipercaya dapat menyelesaikan melalui doa dan sajian-sajian, mengumpulkan keluarga dalam membawa ke pelayanan kesehatan yang menyangkut biaya, dan banyak hal dalam mesyarakat kaitannya pengambilan keputusan tindakan kesehatan yang akan dilakukan.
Berbuatlah baik pada sesama, maka anda etis, benarkah demikian ? Contoh, Ada teman butuh uang satu juta; sebagai orang baik dan etis, anda serta merta meminjami. ternyata uang tersbt digunakan untuk judi dan minum-minuman keras, teman anda kalah dan mabuk, sampai rumah teman anda memukuli istrinya karena lambat buka pintu.. Sudah etiskan anda ?. Lebih rumit lagi etika di tempat kerja. Contoh, Seorang perawat merawat pasien menerima pemberian dari keluarga pasien. Apakah ini etis ?

B. Pengertian Nilai, Moral dan Etika
1. Nilai
Nilai adalah seperangkat keyakinan dan sikap terhadap sesuatu yang benar, indah, berguna mengenai pemikiran, benda, atau perilaku yang dimiliki individu. Nilai terlihat dalam tindakan; memberi arah dan memberi arti untuk menjalani kehidupan.
Nilai berkembang dari pengalaman-pengalaman yang didapat dari orang-orang dan dari lingkungan sekitar. Nilai-nilai membentuk dasar perilaku, sehingga seseorang meyakini suatu nilai, maka perilaku yang ditampakkannya adalah sesuai dengan nilai tersebut. Nilai-nilai yang dianut ini akan mengontrol perilaku dan sangat bermakna untuk mengambil suatu keputusan. Ada 2 bentuk nilai, yaitu : 1) nilai intrinsic ; berhubungan dengan segala sesuatu yang berguna untuk mempertahankan hidup, misalnya makanan, air, udara segar. 2) Nilai ekstrinsik ; berasal dari luar individu dan tidak terlalu perlu untuk mempertahankan hidup, misalnya tentang kemanusiaan, kesejahteraan.
2. Moral
Moral berasal dari bahasa latin : Mores yang berarti : adat kebiasaan. Moral adalah keyakinan individu bahwa sesuatu adalah “mutlak” baik atau buruk walaupun situasi berbeda. Moral salalu dikaitkan dengan ajaran baik buruk yang diterima umum atau masyarakat. Karena itu adapt-istiadat masyarakat menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan. Contohnya apabila seseorang mempunyai keyakinan yang kuat meskipun ia bepergian ke suatu tempat yang segala sesuatunya berbeda maka keyakinannya tidak akan berubah.
Perkembangan moral ini dimiliki sejak lahir sesuai dengan keyakinan bahwa manusia berkembang terus sampai ia meninggal moral ini akan berkembang terus. Apabila seseorang masuk ke pendidikan keperawatan maka ia telah memiliki seperangkat moral sampai dengan usia 18 tahun. Keyakinannya melihat yang baik adalah baik dan yang buruk adalah buruk akan memudahkan ia untuk masuk kesuatu kode etik profesi.
3. Etika
Etika berasal dari Etiket (Bahasa Perancis) artinya Undangan. Para raja pada saat itu mengatur bagaimana kegiatan-kegiatan seremonial dapat bejalan secara baik. Kemudian Etika dapat diartikan tatanan perilaku berdasarkan system tata nilai suatu masyarakat tertentu. Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu filsafat, karena itu standar baik dan buruk itu adalah akal manusia.
4. Akhlak
Akhlak dalam kamus besar Bahasa Indonesia artinya budi pekerti atau kelakuan. Dalam bahasa arab akhlak artinya: tabiat, perangai, kebiasaan.
Akhlak adalah sikap yang melekat pada diri seseorang yang diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatan. Apabila perbuatan itu baik menurut agama maka perbuatan atau tindakan itu disebut akhlakulkarimah (akhlak yang mulia) sebaliknya apabila buruk disebut akhlakul mazmumah (akhlak yang tercela). Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Alquran dan Sunah Rosul. Sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat.
C. Prinsip-prinsip Etika
Etika dalam makalah ini adalah normative ethics, yaitu standar moral yang mengatur benar atau salah. Dalam prinsip normatif klasik mengemukakan; we should do others what we would want others to do us.
Terdapat tiga pendekatan dalam etika normative, yaitu : a) Virtue Theories ( Teori kebajikan), b) Duty Theories ( Teori Kewajiban) dan c) Consequentialist Theorist (Teori Konsekuensi)
1. Virtue Theories ( Teori kebajikan)
Teori ini lebih memberi penekanan pada perilaku baik, sebagai suatu kebajikan atau Virtue. Menurut Plato terdapat empat Cardinal Virtue; Bijak, Berani, sederhana, dan adil. Fieser (2003) menambahkan: tabah, tulus, mempunyai harga diri, sabar dan dermawan.
2. Duty Theories ( Teori Kewajiban)
Menurut Ross ada 7 kewajiban yang harus dilakukan manusia :
1) menepati janji,
2) memberi ganti rugi jika kita merugikan org lain,
3) Berterimakasih kepada orang yang membantu kita,
4) tidak menyakiti orang lain,
5) meningkatkan citra,
6) pengetahuan, dan
7) Ketrampilan pribadi.
Ross menyatakan bahwa dimungkinkan akan terjadi konflik kewajiban. Sehingga kita harus bijak dalam mengambil keputusan. Contoh, seorang direktur yang memecat mahasiswa yang mencuri, jelas menyakiti orang lain, tatapi ia telah berlaku adil dan membantu mahasiswa lainnya.
3. Consequentialist Theorist (Teori Konsekuensi)
Teori ini menetapkan baik buruknya suatu perilaku berdasarkan “analisis harga dan manfaat” atas konsekuensi tindakan. Jadi suatu aksi secara moral dikatakan benar apabila akibat baik dari aksi tersebut lebih banyak dari pada akibat buruknya. Bila konsekuensi baik lebih banyak dari konsekuensi buruk berarti tindakan kita benar.
D. Kode Etik Keperawatan
Karakter dan sikap perawat terbentuk dari hubungan emosional dengan masyarakat. Seorang perawat akan memiliki perasaan empati, apabila perawat memahami situasi yang dialami orang lain. Penerapan perawatan professional harus diawali dengan perubahan dari berfokus pada kepentingan pribadi, kepada kepentingan orang lain atau orang banyak, sehingga seorang perawat ditutut untuk mampu mengambil sebuah keputusan. Untuk itu menjadi seorang perawat professional secara aktif berpartisipasi dalam mengembangkan identitas moral lewat kode etik.
Kode merefleksikan prinsip etik yang secara luas diterima oleh anggota profesi. Kode ditulis secara umum, universal. Kode tidak memaksa seorang perawat untuk menerapkan dalam situasi khusus, namun kode tersebut memberikan panduan untuk membantu perawat dalam pertimbangan moral. Kode merefleksikan autonomi (kebebasan dalam memilih), kemurahan hati (bertindak baik), nonmaleficence (penghindaran dari bahaya), keadilan (memperlakukan semua orang secara adil) serta prinsip skunder dari kejujuran (bicara kebenaran). Kesetiaan (memegang janji) serta kerahasiaan (menghormati informasi tertentu).
E. Tanggung jawab dan tanggung gugat
Seorang perawat memiliki tanggung jawab dan tanggung gugat dalam memberi asuhan keperawatan. Tanggung jawab mengacu pada pelakasanaan tugas yang dikaitkan dengan peran perawat. Seperti seorang perawat ketika memberikan medikasi, maka seorang perawat mempunyai tanggungjawab dalam mengkaji kebutuhan kliean terhadap obat-obatan, memberikannya secara benar dan dalam dosis aman, serta mengevaluasi terhadap respon setelah diberi obat.
Tanggung jawab perawat dalam menjalankan tugas berdasarkan kompetensi. Untuk mempunyai kompetensi seorang perawat harus memiliki pengetahuan dan kemampuan. Seorang perawat memiliki latar belakang pendidikan yang jelas seperti ia harus terlebih dahulu menempuh jenjang pendidikan yang telah dtetapkan oleh profesi seperti, Diploma III Keperawatan atau S-1 Keperawatan dan seterusnya.
Tanggunggugat artinya seorang perawat dalam setiap tindakannya harus dapat memberikan alasan. Seorang perawat bertanggunggugat atas dirinya sendiri, klien, profesi, atasan dan masyarakat. Seperti jika seorang perawat salah dalam memberikan dosis medikasi maka seorang perawat bertanggunggugat kepada klien, dokter yang memberikan perintah atau program terapi, profesi serta masyarakat.
Tanggunggugat memicu evaluasi efektif perawat dalam prakteknya. Tanggunggugat professional memiliki tujuan, sebagai berikut : 1) mengevaluasi atau menkaji ulang terhadap praktek yang telah ada, 2) mempertahankan standar perawatan, 3) memudahkan dalam merefleksikan pemikiran, dan pertumbuhan pribadi, 4) memberikan dasar pengambilan keputusan etis.

Daftar Pustaka
Potter & Perry (1997). Buku Ajar Fundamental Keperawatan; Konsep, Proses, dan Praktek, Yasmin dkk, 1999 (alih bahasa), Yulianti, dkk, 1999 (Editor), Penerbit EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar